Geologi : Definisi, Klasifikasi, Jenis, dan Siklus Batuan
1. Batuan adalah kumpulan dari satu atau lebih mineral yang telah mengkristal dan membentuk bagian dari kerak bumi. Batuan dapat diklasifikasikan berdasarkan awal pembentukannya. Definisi batuan terbagi menjadi 4 definisi yaitu geologiwan, ahlik Teknik sipil khususnya ahli geoteknik, talobre, dan ASTM.
·
Talobre
: Menurut Talobre, orang yang pertama kali memperkenalkan mekanika batuan di
Perancis pada tahun 1948, batuan adalah material yang membentuk kulit bumi
termasuk fluida yang berada didalamnya ( seperti air, minyak, etc).
·
ASTM
: Batuan adalah suatu bahan yang terdiri dari mineral padat atau solid berupa
massa yang berukuran besar ataupun berupa fragmen-fragmen.
·
Para
Ahli Teknik Sipil Khususnya Ahli Geoteknik : Istilah batuan hanya untuk formasi
yang keras dan padat dari kulit bumi. Batuan adalah suatu bahan yang keras dan
koheren atau yang telah terkonsolidasi dan tidak dapat digali dengan cara
biasa, misalnya dengan cangkul dan belincong.
·
Para
Geologiwan : Batuan adalah susunan mineral dan bahan organis yang Bersatu
membentuk kulit bumi dan batuan adalah semua material yang membentuk kulit
bumi.
2. Klasifikasi Batuan Berdasarkan
Proses Pembentukannya
Klasifikasi batuan berdasarkan
proses terbentuknya terdiri atas batuan beku, batuan sedimen, dan batuan
metamorf. Khusus batuan sedimen, keberadaannya mendominasi litosfer (kerak
bumi). Ada sekitar 66 persen permukaan bumi yang tertutupi oleh batuan sedimen.
Menukil penjelasan dalam buku Batuan (2013) terbitan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, 3 jenis batuan (beku, sedimen, dan metamorf) saling berhubungan
satu sama lain. Hubungan itu berkaitan dengan proses pembentukannya. Proses ini
disebut sebagai siklus batuan. Siklus batuan berawal dari magma di kerak bumi
yang mengalir ke permukaan.
3. Tiga jenis utama batuan terdiri
dari batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf.
·
Batuan
Beku
Ø
Pengertian
: batuan yang terbentuk dari pendinginan dan pengerasan magma atau lava,
hasilnya bisa berupa granit atau basal, melewati proses pembentukan magma yang
mendingin di bawah permukaan bumi membentuk batuan beku (terjadi pada granit).
Sedangkan lava yang mendingin di permukaan bumi membentuk batuan beku luar
(terjadi pada basal)
Ø
Jenis
Batuan Beku :
a. Batuan Beku dalam/Plutonik/Intusif/Tubir, Batuan beku dalam adalah batuan yang terbentuk dari magma. Adapun magma yang membeku jauh di dalam bumi hanya terdiri dari kristal saja. Proses pendinginan batuan beku dalam sangat lambat, sehingga terjadi pengkristalan yang sempurna. Kristal batuan beku dalam bentuknya besar dan kasar. Contoh bantuan beku dalam: batu granit, batu gabbro, batu diorit, dan batu syenit.
b. Batuan Beku gang/Korok/Celah, Batuan beku gang merupakan batuan bekuyang terbentuk dari magma gang. Letak pembekuan batuan beku korok ini lebih dekat dengan permukaan bumi dibandingkan batuan beku dalam. Hal ini menyebabkan proses pendinginan magma terjadi lebih cepat. Proses ini membuat pengkristalan menjadi tidak terlalu sempurna. Maka, batuan beku gang ada yang terdiri atas kristal besar, kristal kecil, atau tidak mengkristal. Contoh: batu batu profir granit, batu profir gabbro, batu profir syenit, dan batu granit fosfir.
c. Batuan Beku Luar/Leleran/Ekstrusi/Vulkanis, Batuan beku luar berasal dari lava. Di permukaan bumi, proses pendinginan lava akan berlangsung sangat cepat. Maka, kemungkinanya sangat kecil terjadi proses kristalisasi. Contoh: batu rhyolit, batu andesit, batu trachit, batu basalt, batu obsidian, dan batu apung (purnice).
Ø
Contoh
Batuan Beku :
a. Batuan Apung, ciri-ciri batuan apung yaitu warnanya keabu-abuan, berpori-pori, bergelembung, ringan, dan terapung dalam air. Cara terbentuknya dari pendinginan magma yang bergelembung-gelembung gas. Kemudian kegunaannya, adalah untuk mengamplas atau menghaluskan kayu, dan di bidang industri digunakan sebagai bahan pengisi (filler) isolator temperatur tinggi dan lain-lain.
b.
Batu
Obsidian, Ciri-cirinya berwarna, hitam, dan hijau. Bentuknya seperti kaca, dan
tidak ada kristal-kristal. Cara terbentuknya dari lava permukaan yang mendingin
dengan cepat. Kegunaannya dapat sebagai alat pemotong atau ujung tombak, dan
bisa dijadikan kerajinan.
c.
Batu
Granit, Ciri-ciri batu granit yaitu terdiri atas kristal-kristal kasar, warna
putih sampai abu-abu, kadang-kadang jingga. Batuan ini banyak di temukan di
daerah pinggiran pantai, sungai besar, dan dasar sungai. Cara terbentuknya dari
pendinginan magma yang terjadi lambat di bawah permukaan bumi. Kemudian,
kegunaannya adalah sebagai bahan bangunan.
d.
Batu
Basalt, Ciri-ciri batu basalt yaitu terdiri atas kristal-kristal yang sangat
kecil, dan berwarna hijau keabu-abuandan berlubang-lubang. Cara terbentuknya
yaitu dari pendinginan lava yang mengandung gas tetapi gasnya telah menguap.
Kegunaannya adalah sebagai bahan baku dalam industri poles, bahan bangunan atau
pondasi bangunan.
e.
Batu
Diorit, Ciri batu diorit berwarna kelabu bercampur putih, atau hitam bercampur
putih. Cara terbentuknya yaitu dari hasil peleburan lantai samudra yang
bersifat mafic pada suatu subduction zone, biasanya diproduksi pada busur
lingkaran volkanis, dan membentuk suatu gunung didalam cordilleran. Batu diorit
bisa digunakan sebagai ornamen dinding atau lantai, dan bahan bangunan.
f.
Batu
Andesit, Cirinya adalah batuan bertekstur halus, berwarna abu-abu hijau, atau
jingga. Cara terbentuknya adalah dari lelehan lava gunung api yang meletus,
saat temperatur lava yang meleleh turun antara 900 sampai dengan 1,100 derajat
Celsius. Kegunaannya adalah nisan kuburan, cobek, arca untuk hiasan, dan batu
pembuat candi.
g.
Batu
Gabro, Cirinya adalah warnanya hitam, hijau, dan abu-abu gelap. Struktur batuan
ini masif, tidak terdapat rongga atau lubang udara maupun retakan-retakan.
Batuan ini memiliki tekstur fanerik karena mineral-mineralnya dapat dilihat
langsung secara kasat mata. Cara terbentuknya dari magma yang membeku di dalam
gunung. Kegunaannya adalah untuk pelapis dinding.
h.
Batu
Liparit, Cirinya bertekstur porfiris, dan umumnya berwarna putih. Mineral
pembentuknya adalah feldspar, kuarsa, biotit.
·
Batuan
Sedimen
Ø
Batuan
yang terbentuk dari pengendapan material hasil pelapukan dan erosi batuan lain.
Menghasilkan batu pasir dan batu gamping, melalui proses dengan cara material
hasil pelapukan dan erosi diangkut oleh air, angin, atau es, kemudian mengendap
dan mengeras menjadi batuan sedimen.
Ø
Jenis
Batuan Sedimen :
a.
Berdasarkan
tenaga/medium pengendapannya, batuan sedimen dibedakan menjadi:
·
Batuan
sedimen aeris atau aeolis (berasal dari pengendapan angin). Contoh: tanah loss.
·
Batuan
sedimen glasial (berasal dari pengendapan es/gletser). Contoh: moraine.
·
Batuan
sedimen aquatic (berasal dari pengendapan air). Contoh: breksi, batu pasir.
·
Batuan
sedimen marine (berasal dari pengendapan air laut).
b.
Berdasarkan
tempat pengendapannya, batuan sedimen dibedakan menjadi sebagai berikut:
·
Batuan
sedimen teristis (diendapkan di darat).
·
Batuan
sedimen limnis atau lakustre (diendapkan di danau). Contoh: tanah liat danau.
·
Batuan
sedimen marine atau continental (diendapkan di laut). Contoh: tanah merah.
·
Batuan
sedimen fluvial (diendapkan di sungai).
·
Batuan
sedimen glacial (diendapakan di tempat yang terdapat es atau salju).
c.
Berdasarkan
cara pengendapannya, batuan sedimen di bedakan menjadi sebagai berikut :
·
Batuan
sedimen klastis: terbentuk dari pelapukan batuan lain yang molekulnya
mengendap, bergabung dan mengeras menjadi satu. Contoh: breksi, batuan pasir.
·
Batuan
sedimen kimia atau khemis: terbentuk dari proses pelapukan kimiawi yang
kemudian mengalami pemisahan molekul zat.
·
Batuan
sedimen organis: terbentuk karena kumpulan jasad renik yang menjadi batuan.
Ø
Contoh
Batuan Sedimen :
a.
Batu
Konglomerat, Cirinya adalah material kerikil-kerikil bulat, batu-batu, dan
pasir yang merekat satu sama lainnya. Cara terbentuknya yaitu dari bahan-bahan
yang lepas karena gaya beratnya menjadi terpadatkan dan terikat. Kegunaannya
sebagai bahan bangunan.
b.
Batu
Pasir, Cirinya yaitu tersusun dari butiran-butiran pasir, warna abu-abu,
kuning, merah. Cara terbentuknya yaitu dari bahan-bahan yang lepas karena gaya
beratnya menjadi terpadatkan dan terikat. Adapun kegunaannya selama ini sebagai
bahan pembuatan gelas atau kaca, dan bahan bangunan.
c.
Batu
Serpih, Cirinya yaitu lunak, baunya seperti tanah liat, butir-butir batuan
halus. Kemudian warnanya hijau, hitam, kuning, merah, atau abu-abu. Cara terbentuknya
yaitu dari bahan-bahan yang lepas, lalu halus karena gaya beratnya menjadi
terpadatkan dan terikat. Kegunaannya yaitu sebagai bahan bangunan.
d.
Batu
Gamping, Cirinya sedikit lunak. Warnanya putih keabu-abuan, serta membentuk gas
karbon dioksida ketika ditetesi asam. Cara terbentuknya yaitu dari cangkang
binatang lunak seperti siput, kerang, dan binatang laut yang telah mati.
Rangkanya yang terbuat dari kapur tidak musnah, tetapi memadat dan membentuk
batu kapur. Kegunaannya yaitu sebagai bahan baku semen.
e.
Batu
Breksi, Cirinya adalah gabungan dari pecahan-pecahan letusan gunung berapi.
Cara terbentuknya yaitu dari bahan-bahan yang terlempar tinggi ke udara dan
mengendap di suatu tempat. Kegunaannya yaitu sebagai kerajinan, dan bahan
bangunan.
f.
Stalaktit
dan Stalagmit, Cirinya berwarna kuning, coklat, krem, keemasan, dan putih. Cara
terbentuknya yaitu dari air yang larut di daerah karst akan masuk ke
lobang-lobang. Kemudian turun ke gua dan menetes-netes dari atap gua ke dasar
gua. Tetesan-tetesan air yang mengandung kapur lama-kelamaan kapurnya membeku
dan menumpuk sedikit demi sedikit. Lalu, berubah jadi batuan kapur yang
bentuknya runcing-runcing.
g.
Batu
Lempung, Cirinya berwarna coklat, merah, dan abu-abu. Terbentuk dari proses
pelapukan batuan beku dan sering kali ditemukan di sekitar batuan induknya.
·
Batuan
Metamorf
Ø
Batuan
yang terbentuk dari perubahan batuan asal seperti beku atau sedimen yang
diakibatkan oleh tekanan dan suhu yang tinggi, seperti marmer dan batu asbak.
Proses pembentukannya diawali dengan batuan asal mengalami perubahan tekstur
dan komposisi mineral tanpa mengalami pencairan.
Ø
Jenis
Batuan Metamorf :
a.
Batuan
Metamorf Kontak, Proses pembentukan batuan metamorf kontak terjadi secara
berurutan yang disebabkan oleh suhu yang tinggi akibat berdekatan dengan magma
sehingga memanasi batuan di sekitarnya. Maka itu, proses pembentukan batuan
metamorf kontak ini terjadi di daerah yang tidak begitu luas. Contoh batuan
metamorf kontak: batu marmer di Tulung Agung, dan batu bara di Bukit Barisan.
b.
Batuan
Metamorf Dinamo (Metamorforfosis Regional), Batuan metamorf dinamo merupakan
batuan yang terbentuk karena faktor tekanan dalam waktu yang lama. Contoh
batuan ini adalah batu sabak.
c.
Batuan
Metamorf Kontak Pneumatalitis, Dalam perubahan batuan kontak dan batuan
metamorf dinamo sering kali ada penambahan bahan lain juga. Bahan tersebut
dapat berupa gas, cair, maupun benda padat. Penambahan baha-bahan itu akan
mempengaruhi proses dan hasil perubahan batuan. Contoh dari Batuan Metamorf
Kontak Pneumatalitis adalah kwarsa yang mengandung fluorium akan menjadi topaz,
atau batu permata berwarna kuning.
Ø
Contoh
Batuan Metamorf :
a.
Batuan
Pualam atau Batu Marmer, Ciri batuan ini yaitu dari campuran warna
berbeda-beda, mempunyai pita-pita warna, dan kristal-kristalnya sedang sampai
kasar. Batu pualam/marmer terbentuk dari batu kapur yang mengalami perubahan
suhu dan tekanan.
b.
Batuan
Sabak, Ciri batuan ini yaitu berwarna abu-abu kehijau-hijauan dan hitam.
Terbentuk dari batu serpih yang terpapar suhu dan tekanan tinggi.
c.
Batuan
Gneiss, Cirinya berwarna putih kebau-abuan, dan terdapat goresan-goresan yang
tersusun dari minera-mineral.
d.
Batuan
Sekis, Ciri bantuan
sekis yaitu berwarna hitam, hijau dan ungu. Cara terbentuknya yaitu pada
derajat metamorfosa tingkat menengah.
e.
Batuan
Kuarsit, Ciri batuan kuarsit yaitu
berwarna Abu-abu, kekuningan, cokelat, dan merah.
f.
Batuan
Milonit, Ciri batuan milonit yaitu butir-butirnya lebih halus, dan dapat
dibelah. Warnanya adalah abu-abu, kehitaman, coklat, dan biru.
4. Siklus Batuan
Siklus batuan menggambarkan proses
perubahan dari satu jenis batuan ke jenis batuan lainnya melalui berbagai
proses geologi:
·
Kristalisasi:
Magma mendingin dan mengeras menjadi batuan beku.
·
Pelapukan
dan Erosi: Batuan beku terpapar di permukaan bumi, mengalami pelapukan dan
erosi, menghasilkan sedimen.
·
Pengendapan
dan Litifikasi: Sedimen mengendap dan mengeras menjadi batuan sedimen.
·
Metamorfosis:
Batuan sedimen atau beku mengalami tekanan dan suhu tinggi, berubah menjadi
batuan metamorf.
·
Meleleh:
Batuan metamorf meleleh kembali menjadi magma.
Comments
Post a Comment